Penulis: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Mu’thi, Lc

Adab adalah menggunakan sesuatu yang terpuji berupa ucapan dan perbuatan atau yang terkenal dengan sebutan Al-Akhlaq Al-Karimah. Dalam Islam, masalah adab dan akhlak mendapat perhatian serius yang tidak didapatkan pada tatanan manapun. Hal ini dikarenakan syariat Islam adalah kumpulan dari aqidah, ibadah, akhlak, dan muamalah. Ini semua tidak bisa dipisah-pisahkan. Manakala seseorang mengesampingkan salah satu dari perkara tersebut, misalnya akhlak, maka akan terjadi ketimpangan dalam perkara dunia dan akhiratnya.
Adab dalam pandangan Islam bukanlah perkara remeh. Bahkan ia menjadi salah satu inti ajaran Islam. Demikian penting perkara ini, hingga para ulama salaf sampai menyusun kitab khusus yang membahas tentang adab ini.

Di tengah padang sahara yang membakar, bergolak kehidupan masyarakat jahiliah yang tidak mengenal kebaikan kecuali apa yang diwariskan oleh nenek moyang. Penyimpangan dari agama Nabi Ibrahim q (mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ibadah) tercermin pada banyaknya berhala yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Masing-masing kabilah memiliki berhala yang mereka yakini mampu mendatangkan manfaat dan menolak marabahaya. Bahkan kesucian Ka’bah pun telah tercemari dengan berdirinya sekian ratus berhala yang diagung-agungkan di sekitarnya.
Dari sisi tatanan kehidupan bermasyarakat, mereka telah mencapai titik terparah. Tidak ada pemimpin yang menyatukan mereka, sehingga masing-masing ingin berkuasa dan menindas yang lainnya. Berlaku bagi mereka undang-undang jahiliah: “Siapa yang kuat dia yang menang.” Kejahatan moral dan penyimpangan kesusilaan merupakan pemandangan yang mewarnai kehidupan sehari-hari.
Demikian gambaran kondisi bangsa Arab sebelum diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan rahmat-Nya mengutus Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengeluarkan mereka dari gelapnya kekufuran dan kebodohan kepada cahaya iman dan ilmu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Al-Jumu’ah: 2)
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan syariat yang sempurna, yang telah menjamin kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat kelak bagi orang yang berpegang teguh dengannya. Syariat yang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bawa bersifat universal, di mana segala aspek kehidupan manusia telah diatur dalam Islam dengan begitu rapinya. Di antara yang terpenting yang dibawa oleh Islam adalah memperbaiki kondisi batin manusia dan membimbing mereka kepada keteguhan hati di atas agama, serta memunculkan kontrol keimanan yang mendorong kepada kebaikan dan mencegah dari kejahatan.
Sebagai misal adalah diwajibkannya shalat, zakat, puasa, dan haji. Amal-amal tersebut selain dikerjakan sebagai bentuk ketundukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala demi meraih surga-Nya, juga mengandung manfaat yang banyak. Shalat misalnya. Bila dikerjakan dengan ikhlas dan benar akan mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (Al-‘Ankabut: 45)
Zakat sebagai bentuk memerangi hawa nafsu dari sikap bakhil dan menyantuni orang fakir serta yang membutuhkan. Puasa akan melatih kesabaran dan menumbuhkan kepekaan sosial serta jiwa suka berderma. Haji sebagai bentuk pengorbanan dengan harta dan tenaga.
Dari sini jelas, bahwa perintah-perintah agama dilakukan bukan sekadar rutinitas yang hampa dari makna. Bahkan terkandung berbagai maksud dan tujuan. Di antaranya adalah membentuk kepribadian yang memiliki adab yang mulia dan budi pekerti yang luhur.

Kedudukan Adab dalam Islam
Adab adalah menggunakan sesuatu yang terpuji berupa ucapan dan perbuatan atau yang terkenal dengan sebutan Al-Akhlaq Al-Karimah. Dalam Islam, masalah adab dan akhlak mendapat perhatian serius yang tidak didapatkan pada tatanan manapun. Hal ini dikarenakan syariat Islam adalah kumpulan dari aqidah, ibadah, akhlak, dan muamalah. Ini semua tidak bisa dipisah-pisahkan. Manakala seseorang mengesampingkan salah satu dari perkara tersebut, misalnya akhlak, maka akan terjadi ketimpangan dalam perkara dunia dan akhiratnya. Satu sama lainnya ada keterkaitan sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِفَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berbuat baik terhadap tetangganya.” (HR. Muslim, Bab Al-Hatstsu’ala Ikramil Jaar wadh Dhaif)
Di sini terlihat jelas bagaimana kaitan antara akidah dan akhlak yang baik. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menafikan keimanan orang yang tidak menjaga amanah dan janjinya.
لاَ إِيْمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَهُ، وَلاَ دِيْنَ لِمَنْ لاَ عَهْدَ لَهُ
“Tidak ada iman bagi orang yang tidak menjaga amanah dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menjaga janjinya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban. Dishahihkan oleh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Jami’ no. 7179)
Bahkan suatu ibadah tidak ada nilainya manakala adab dan akhlak tidak dijaga. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan dusta dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh dengan (amalan) meninggalkan makan dan minumnya (puasa, red.).” (HR. Al-Bukhari no. 1903). Yakni puasanya tidak dianggap.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan bahwa adab memiliki pengaruh yang besar untuk mendatangkan kecintaan dari manusia, sebagaimana firman-Nya:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut, terhadap mereka. Seandainya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (Ali ‘Imran: 159)
Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullahu menerangkan: “Akhlak yang baik dari seorang pemuka (tokoh) agama menjadikan manusia tertarik masuk ke dalam agama Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjadikan mereka senang dengan agama-Nya. Di samping itu, pelakunya akan mendapat pujian dan pahala yang khusus. (Sebaliknya) akhlak yang jelek dari seorang tokoh agama menyebabkan orang lari dari agama dan benci kepadanya, di samping bagi pelakunya mendapat celaan dan hukuman yang khusus. Inilah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seorang yang ma’shum (terjaga dari kesalahan). Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan kepadanya apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala katakan (pada ayat ini). Bagaimana dengan selainnya? Bukankah hal yang paling harus dan perkara terpenting adalah seseorang meniru akhlaknya yang mulia, bergaul dengan manusia dengan apa yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam contohkan berupa sifat lemah lembut, akhlak yang baik dan menjadikan hati manusia suka? Ini dalam rangka melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menarik para hamba ke dalam agama-Nya.” (Taisir Al-Karimirrahman hal. 154)

Pembagian Adab
Pembahasan adab sangat luas cakupannya. Tidak terbatas pada masalah adab terhadap manusia saja. Bahkan pembahasan adab mencakup:
1. Adab terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Yakni dengan seseorang memercayai berita-Nya, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya serta bersabar atas takdir-Nya. Di dalam dirinya tertanam sikap cinta, berharap, dan takut hanya kepada-Nya. Segala ucapan dan perbuatannya mencerminkan pengagungan dan penghormatan kepada-Nya. Namun adab terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak terealisasi dengan baik kecuali dengan mengenal nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sifat-sifat-Nya yang mulia. Demikian pula dengan mengenal syariat-Nya, hal-hal yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan yang dibenci-Nya, serta (yang tak kalah penting) adanya kesiapan jiwa untuk menerima kebenaran secara total. Ini adalah pokok dari adab. Manakala hal ini tidak ada pada diri seseorang maka tidak ada kebaikan pada dirinya.
2. Adab terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Yaitu dengan berserah diri terhadap keputusannya, tunduk kepada perintahnya, dan memercayai beritanya tanpa mempertentangkannya dengan apapun, baik pendapat-pendapat manusia, keragu-raguan, kias (analogi) yang batil, atau dengan menyimpangkan ucapannya dari maksud yang sesungguhnya. Termasuk adab terhadap beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tidak mendahului keputusannya dan tidak mengangkat suara di sisinya lebih dari suaranya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedang kamu tidak menyadari.” (Al-Hujurat: 2)
Jika mengangkat suara lebih dari suara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa menjadikan batal amal kebaikan seseorang, bagaimana kiranya orang yang menentang sabdanya dengan akal semata atau pendapat-pendapat manusia?!
3. Adab terhadap orang lain.
Yaitu bermuamalah (bergaul) bersama manusia dengan perbedaan status mereka sesuai kedudukannya. Terhadap orangtua, ada adab yang khusus baginya. Bersama orang alim dan penguasa, ada adab yang patut untuk mereka. Dengan tamu, ada adab yang tidak sama dengan keluarga sendiri. Demikian seterusnya.
4. Adab yang umum sesuai keadaan.
Misalnya adab ketika safar, bermajelis, makan dan minum.
Walhasil, beradabnya seorang pertanda kebahagiaan dan kesuksesannya. Lihatlah, bagaimana seseorang dilepaskan dari marabahaya karena baik adabnya terhadap orangtua, setelah sebelumnya terkurung dalam goa yang tertutup pintunya oleh batu besar. (lihat Shahih Al-Bukhari no. 5974)
Namun sebaliknya, seorang ahli ibadah dari bani Israil yang bernama Juraij tatkala kurang adabnya terhadap ibunya, dia mendapat doa kejelekan dari ibunya. Juraij mendapat musibah dengan dituduh berbuat zina sehingga dia ditangkap dan diarak dengan tangan terikat. Bahkan tempat ibadahnya pun dihancurkan. (lihat pembagian adab dan penjelasannya dalam kitab Madarijus Salikin karya Ibnul Qayyim rahimahullahu, 2/375-392 cet. Maktabah As-Sunnah)
Adab di mata Salaf
Salafush Shalih umat ini yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat g, tabi’in, dan yang mengikuti mereka sangat memerhatikan permasalahan adab. Karena adab adalah bagian dari syariat yang dengannya terwujud kemaslahatan dunia dan akhirat. Orang yang mencermati kehidupan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya g akan mendapatkan para sosok yang sempurna akhlak dan adabnya. Sesungguhnya lembaran sejarah keemasan kita yang masih terlipat semestinya kita buka dan kita pahami untuk diambil petunjuk darinya. Umat Islam seyogianya bersyukur bahwa para pendahulu mereka telah melewati kehidupan dunia ini dengan menyuguhkan yang terbaik bagi umat manusia.
Orang-orang yang terbimbing dengan wahyu Ilahi tidaklah mengambil dari adab dan akhlak melainkan yang paling mulia. Sebagaimana mereka tidak mengambil dari aqidah dan ibadah kecuali yang terbersih. Inilah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sosok teladan yang berbuat baik dan adil tidak hanya kepada para sahabatnya. Bahkan terhadap musuh sekalipun beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengesampingkan adab. Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika hendak berhijrah ke Madinah, beliau memerintahkan sahabat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu untuk tidur di rumah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengembalikan amanat/titipan orang-orang Quraisy. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengambil sedikitpun harta titipan orang-orang kafir tersebut, walaupun sekadar sebagai bekal untuk sampai di Madinah. Padahal beliau sangat membutuhkannya, apalagi merekalah yang menyebabkan beliau terusir dari Makkah. Maha Benar Allah ketika berfirman dengan memuji Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al-Qalam: 4)
Karena pentingnya permasalahan adab maka para ulama yang membukukan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memuat dalam kitab-kitab mereka riwayat-riwayat yang berkaitan dengan adab dan akhlak. Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu misalnya di dalam Shahih-nya memuat lebih dari 250 hadits tentang adab. Bahkan beliau menulis kitab khusus tentang adab yang diberi judul Al-Adab Al-Mufrad, hanya saja kitab ini tidak disyaratkan semua haditsnya shahih, sehingga ada yang dhaif (lemah). Al-Imam Abu Dawud rahimahullahu, murid Al-Bukhari rahimahullahu, juga memuat sekitar 500 hadits tentang adab dalam Sunan-nya. Demikian pula Ibnu Hibban rahimahullahu memuat lebih dari 670 hadits adab dalam Shahih-nya.
Kitab-kitab adab secara khusus sendiri banyak sekali. Kita dapatkan kitab Al-Adab An-Nabawi karya Al-Baihaqi rahimahullahu, Al-Adab Asy-Syar’iyyah karya Ibnu Muflih Al-Hanbali rahimahullahu, Makarimul Akhlaq karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu, Akhlaqul ‘Ulama karya Al-Ajurri rahimahullahu, Ash-Shamt karya Ibnu Abiddunya rahimahullahu, dan lain-lain. Ulama memiliki andil yang besar dalam menjaga hadits-hadits adab dan menyebarkannya. Di tengah-tengah keterpurukan moralitas umat, sudah semestinya kita kenalkan kepada mereka kitab-kitab tersebut. Semoga mereka mau kembali ke jalan yang benar dan krisis moral bisa dihindarkan.

Ciri dan Keistimewaan Adab Islami daripada Adab-adab selainnya
Adab-adab Islamiah memiliki keistimewaan besar di antaranya:
1. Bersifat menyeluruh, di mana syariat Islam telah mengatur segala sisi kehidupan muslimin dari yang terkecil hingga yang terbesar. Baik sebagai pribadi, di dalam keluarga, ataupun di tengah masyarakat. Sebagaimana kewajiban untuk berhias diri dengan adab Islam meliputi seluruh muslimin baik tua atau muda, laki-laki maupun perempuan.
2. Kokoh bersamaan dengan kokohnya nilai-nilai Islam.
Misalnya mengucapkan salam, berjabat tangan, jujur dan yang lainnya, termasuk adab-adab Islam yang tidak berubah dengan pergeseran waktu dan tempat.
3. Peduli terhadap orang lain. Adab-adab Islam mendidik seorang muslim untuk memiliki kepekaan dan perhatian terhadap masyarakat sekitarnya dan manusia secara umum. Di dalam pergaulan seseorang dilarang untuk bersikap egois dan acuh tak acuh. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ
“Bukan seorang mukmin yang dia kenyang sementara tetangganya kelaparan.” (Shahih Al-Adab Al-Mufrad no. 82)
Tidak cukup seseorang hanya menahan dirinya dari mengganggu orang, sampai ia berbuat baik kepada orang lain. Bahkan berbuat baik kepada yang berbuat jelek kepada kita. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Sambunglah orang yang memutuskan (hubungan) denganmu, berbuat baiklah kepada orang yang berbuat jelek kepadamu, dan ucapkanlah yang haq (benar) walau mengenai dirimu.” (HR. Ibnu An-Najjar, dan dishahihkan oleh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahihul Jami’ no. 3769)
4. Adab-adab Islam dijalankan dengan sepenuh ketaatan. Seorang muslim berpegang dengannya semata-mata ingin mencari ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dalam rangka menyambut perintah-Nya.
Bukan karena peraturan manusia atau undang-undang yang dibuat oleh mereka yang menyelisihi Al-Qur`an dan hadits. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman menjelaskan tentang orang-orang yang baik:
وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا. إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا
“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. ‘Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih’.” (Al-Insan: 8-9)
Wallahu a’lam bish-shawab.
http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=719