Soal:
“Bagaimana hukumnya orang yang membagi agama menjadi kulit dan esensi?”. 

Pertanyaan ini dijawab oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Al-Manahil Lafzhiyah:

Membagi agama menjadi kulit dan esensi adalah keliru dan batil. Agama seluruhnya adalah esensi (semuanya pokok- ed.); seluruhnya bermanfaat bagi hamba. Seluruhnya akan mendekatkan kepada Allah ‘azza wa jalla, dan siapapun yang mengamalkannya akan mendapat pahala. Semuanya akan mendatangkan manfaat, menambah keimanan dan ketundukan dihadapan Allah ‘azza wa jalla hingga masalah pakaian dan penampilan atau yang serupa dengannya. Semua ini, jika dilakukan dengan niat taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dan meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia akan diganjar pahala atas semua perbuatannya itu.

Sedangkan kulit, sebagaimana kita ketahui tidak bermanfaat apa-apa, bahkan kulit kita buang! Dalam agama dan syari’at Islam tidak ada yang seperti ini. Semua yang terdapat dalam syari’at Islam adalah isi yang bermanfaat bagi seorang hamba jika itu diamalkan dengan ikhlas karena Allah dan dengan maksud menteladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Bagi orang-orang yang mempropagandakan istilah ini, hendaknya mereka berpikir, hingga mereka dapat mengetahui yang haq dan benar, untuk kemudian mereka ikuti kebenaran itu. Hendaknya mereka juga meninggalkan istilah-istilah semacam ini.

Ya, dalam agama Islam terdapat hal-hal yang sangat penting dan besar seperti rukun Islam yang lima yang dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sabdanya,

بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ ، وَإِقَامُ الصَّلاَةِ ، وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ ، وَحَجُّ الْبَيْتِ ، وَصَوْمُ رَمَضَانَ

 


“Islam dibangun di atas perkara yang lima; Syahadat lailaha illallah dan Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, shaum di bulan Ramadhan dan malaksanakan haji ke baitullah Al-haram”(Muttafaq ‘Alaihi).
(Islam dibangun) juga dengan perkara yang tidak sepenting dan sebesar itu. Akan tetapi, dalam Islam tidak ada yang disebut dengan kulit yang tidak bermanfaat bagi manusia bahkan terbuang.
Masalah jenggot misalnya (banyak yang menganggapnya sebagai kulit agama saja, sehingga tidak perlu dibiarkan panjang –ed.), tidak diragukan lagi bahwa membiarkannya panjang adalah ibadah karena Nabi memerintahkan hal itu (Terdapat dalam beberapa hadits, diantaranya Ibnu Umar dikeluarkan Al-Bukhari: 5893, Muslim: 259. dari Abu Hurairah riwayat Muslim: 260)
Setiap yang diperintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah ibadah yang akan mendekatkan seorang hamba kepada Rabbnya. Masalah jenggot bahkan adalah ajaran Nabi dan seluruh para Rasul sebagaimana firman Allah tentang Nabi Harun ketika berkata kepada Nabi Musa,”Harun menjawab
“Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku” (Thaha: 94)
Terdapat dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa memanjangkan jenggot adalah fitrah yang menyertai penciptaan manusia, karena itu memanjangkannya adalah ibadah dan bukan adat, bukan pula perkara kulit seperti sangkaan orang.
(Sumber: http://ulamasunnah.wordpress.com)

http://www.calgaryislam.com/imembers/Sections+index-req-viewarticle-artid-493-page-1.html