Penulis: Ustadz Abu Karimah Askari

Mukaddimah

إِنَّ الحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صلى الله عليه، وعلى آله وصحبه وسلم. وبعد
Segala puji hanya bagi Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, mengharapkan petunjuk-Nya dan ampunan-Nya, serta berlindung kepada Allah dari kejahatan hawa nafsu kita dan kejahatan amalan kita. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada satupun yang dapat menyesatkannya, sebaliknya siapapun yang disesatkan Allah, niscaya tidak satupun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.

Saya bersaksi tidak ada Ilah yang haq kecuali Allah, satu-satunya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Saya bersaksi pula bahwa Muhammad itu adalah seorang hamba dan utusan Allah.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”(Ali ‘Imran 102).

Dan:
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثََّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari jiwa yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya, dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”(An Nisa` 1).

Dan:
يَاأَيُّهَا الَّذِِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا .يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan kamu dana mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.”
Dan:
يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan kamu dana mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.”(Al Ahzab 70-71).
Amma ba’du:

Sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah Kitab Allah. Dan sebaik-baik tuntunan (petunjuk) adalah tuntunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam.
Seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan. Dan semua yang diada-adakan adalah bid’ah. Dan bid’ah itu adalah sesat. Dan kesesatan itu di neraka.
Sesungguhnya, di antara kenikmatan yang Allah limpahkan kepada ummat ini adalah menyempurnakan agama yang dibawa oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam, di mana mereka mengembalikan semua permasalahan agama yang mereka hadapi ini kepada Kitab Allah (Al Quran) dan As Sunnah yang shahih.

Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan: Kenikmatan yang hakiki adalah kenikmatan yang mengantarkan seseorang kepada kebahagiaan abadi. Nikmat tersebut adalah Islam dan As Sunnah. Inilah kenikmatan yang diperintahkan oleh Allah kepada kita untuk senantiasa mengharapkannya dalam setiap shalat yang kita tegakkan, yaitu agar Dia memberi hidayah (petunjuk) kepada kita jalan orang-orang yang telah memperoleh kenikmatan hakiki tersebut, orang-orang yang Allah istimewakan dengan menjadikan mereka sebagai orang-orang yang berada di derjat yang tertinggi.

Allah Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا
“Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka mereka bersama orang-orang yang telah Allah diberi kenikmatan, yaitu para Nabi, shiddiqin, syuhada` (mereka yang mati syahid) dan shalihin (orang-orang yang saleh). Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”(An Nisa` 69). (Ijtima’ Al Juyusy 5).

Abul ‘Aliyah rahimahullah mengatakan:”Saya telah membaca ayat-ayat muhkam sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam sekitar sepuluh tahun. Tenyata Allah telah menganugerahkan kepadaku dua kenikmatan yang saya tidak tahu mana yang lebih utama, yaitu Allah memberiku hidayah untuk menerima Islam dan tidak menjadikan aku seorang Haruri (Khawarij).”(Diriwayatkan ‘Abdurrazaq, Ibnu Sa’d dan Al Lalikai dalam Syarh Ushul I’tiqad :230 dengan lafadz yang berbeda, lihat mukaddimah Madarikun Nazhar Syaikh Ar Ramadlani hal 21).

Allah Ta’ala tidak hanya menyempurnakan agama ini dari segi ilmu tapi juga pengamalan. Karena sebagaimana tidak pernah hilangnya masa di mana Allah menegakkan hujjah terhadap para hamba-Nya, maka tidak pernah hilang pula masa di mana tetap eksisnya satu kelompok orang-orang mu`min yang mengamalkan ajaran agama ini.

Humaid bin ‘Abdirrahman mengatakan:”Saya pernah mendengar Mu’awiyah berkhutbah, katanya:”Saya pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنْ وَإِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ وَاللهُ يُعْطِي وَلَنْ تَزَالَ مِنْ هَذِهِ الْأَمَةِ قَائِمَةً عَلَى أَمْرِ اللهِ لاَ يَضُرُهُمْ مِنْ خَذَلَهُمْ وَلاَ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ عَلَى ذَلِكَ
“Siapa yang Allah kehendaki dengannya kebaikan, niscaya Allah jadikan dia fakih terhadap agamanya. Saya hanya membagi dan Allah yang memberi. Akan senantiasa dari ummat ini ada kelompok yang tegak di atas perintah Allah, tidak merugikan mereka orang-orang yang meremehkan mereka ataupun yang menyelisihi mereka sampai datang keputusan Allah, dan mereka tetap dalam keadaan demikian.”(HSR. Bukhari-Muslim).

Di hari-hari belakangan ini, kaum muslimin kembali menghadapi ujian dengan merebaknya metode (manhaj) baru yang mencampuradukkan antara yang haq dengan yang batil, sunnah dengan bid’ah dan yang ma’ruf dengan yang munkar. Dan tidak jarang dibumbui dengan kesyirikan lalu menjadi ajaran agama yang digunakan dalam beribadah kepada Allah. Celakanya lagi, mereka menganggap diri mereka benar.

Keadaan mereka tidak lain seperti yang Allah terangkan dalam firman-Nya:
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالأَخْسَرِينَ أَعْمَالاً الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
“Katakanlah:”Maukah kamu, kami terangkan tentang orang-orang yang paling merugi amalannya, sia-sia usaha mereka di dunia, dalam keadaan mereka menyangka telah berbuat sebaik-baiknya.” (Al Kahfi 103).

Dan firman Allah Ta’ala:
وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
‘Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar lidah-lidah mereka membaca Al Kitab agar kamu menyangka itu adalah Al Kitab, padahal bukan Al Kitab. Mereka mengatakan ini dari sisi Allah, padahal bukan dari sisi Allah. Mereka mengatakan sesuatu tentang Allah tanpa ilmu.”(Ali ‘Imran 78).

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Al Bazzar dari ‘Umar bin Al Khaththab, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:
إِنَّ أََخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي كُلُّ مُنَافِقٍ عَلِيمِ الْلِّسَانِ
“Sesungguhnya yang paling aku khawtirkan menimpa ummatku adalah setiap orang munafik yang pandai bicara.”(hadits ini pada awalnya dihasankan oleh syeikhuna Muqbil rahimahullah Ta’ala dalah “Al-jami’ as-shohih,namun beliau kemudian merojihkan bahwa ini adalah perkataan Umar bin Khattab, bukan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam,sebagaimana yang dikuatkan oleh Daruquthni,lihat: Ahadits mu’allah karangan syaikhuna Muqbil: 330-331).

Diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dan Ath Thabrani dari Anas bin Malik dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam:
بَيْنَ يَدَي السَّاعَةَ سِنُوْنَ خَدَّاعَةِ يَتَّهِمُ فِيْهَا الأَمِيْنُ وَيُؤْتَمَنْ فِيْهَا الْمُتَّهَمُ وَ يَنْطِقُ فِيْهَا الرُّوَيْبِضَةُ. قَالُوا: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ يَا رَسُوْلَ الله قَالَ: السَّفِيْهُ يَنْطِقُ فِي أَمْرِ العَامَّةِ
“Menjelang hari kiamat ada tahun-tahun yang menipu. Seorang yang amanah menjadi orang yang dicurigai, sementara orang yang dicurigai dipercaya. Pada masa itu para ruwaibidlah angkat bicara. Beliau ditanya:”Apa ruwaibidlah itu, wahai Rasulullah?”Beliau mengatakan:”Orang yang bodoh berbicara tentang permasalahan umum.”(Disahihkan Syaikhuna Muqbil bin Hadi Al Wadi’i rahimahullahu sebagaimana dalam Shahihul Musnad).

Akan tetapi walhamdulillah, tidak ada satu kesesatan atau penyimpangan yang muncul melainkan bangkitlah ulama Ahlus Sunnah membela agama ini, membeberkan kesesatan orang-orang yang membuat kerancuan dan mengotori dakwah yang haq yang telah diajarkan serta dijalankan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan para sahabatnya ini.

Termasuk mereka yang mengotori adalah kaum sufi yang banyak mengada-adakan bid’ah yang sama sekali tidak pernah Allah turunkan satu keteranganpun tentangnya. Mereka datang dengan syari’at baru dan berbagai tatacara ibadah yang bersumber dari hawa nafsu mereka dalam keadaan menyangka bahwa amalan ini akan mendekatkan mereka kepada Allah Jalla Jalaluhu. Mulailah mereka mengajak manusia hingga akhirnya sebagian besar kaum muslimin mengikuti (taklid) kepada apa yang mereka kerjakan. Dan tatkala bid’ah dan penyimpangan ini disambut dan diamalkan oleh manusia (mayoritasnya), orang yang jahil akan mengatakan,”Kalau perbuatan ini munkar, mengapa banyak yang mengerjakannya?”

Tentu saja alasan ini sangat tidak logis. Suatu kebenaran tidak dapat dinilai dari banyak sedikitnya orang yang mengamalkannya. Rujukan kita untuk mengenal al haq (kebenaran) adalah Kitabullah (Al Quran) dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (Al Baqarah 147, Ali ‘Imran 60, Al Kahfi 29):
الْحَقُّ مِنْ رَّبِّكُمْ
“Al Haq itu datangnya dari Rabbmu (Allah)..”
Alangkah tepatnya perkataan Ibnul Qayyim dalam qasidah Nuniyahnya:
فَاعْجَبْ لِعُمْيَانِ الْبَصَائِرِ أَبْصَرُوا كَوْنَ الْمُقَلَّدِ صَاحِبَ الْبُرْهَانِ
وَرَأَوْهُ باِلتَّقْلِيْدِ أَوْلَى مِن سِوَاهُ بِغَيْرِ مَا بَصَرَ وَلاَ بُرْهَانِ
وَعَمُوْا عَنِ الْوَحْيَيْنِ إِذْ لَمْ يَفْهَمُوْا مَعْنَاهُمَا عَجَبًا لِذِي الْحُرْمَانِ
“Alangkah anehnya mereka yang buta bashirahnya, mereka melihat seakan para muqallad (yang ditaqlidi) itu orang yang benar
Mereka menilai melalui taqlid itu dia lebih utama dari yang lainnya, tanpa ilmu dan burhan
Mereka buta dari dua wahyu (Al Quran dan As Sunnah), karena tidak memahaminya, mengherankan, betapa jauhnya mereka dihalangi”.

Allah telah mencela dalam beberapa ayat-Nya orang-orang mengikuti kebanyakan manusia. Firman Allah Ta’ala:
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلاَّ يَخْرُصُونَ
“Dan kalau kamu mengikuti kebanyakan manusia di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanya mengikuti dugaan-dugaan belaka dan mereka tidak lain hanyalah berdusta.”(Al An’am 116).

Syaikh As Sa’di rahimahullahu Ta’ala mengatakan:”Ayat ini menjelaskan kepada kita agar jangan menilai suatu kebenaran karena banyaknya pengikut. Sedikitnya jumlah orang yang menempuh suatu jalan bukan patokan bahwa jalan itu tidak benar. Bahkan realita yang ada menunjukkan hal sebaliknya. Karena sesungguhnya orang-orang yang berjalan di atas al haq (kebenaran) mereka justeru adalah golongan minoritas, namun mereka orang-orang yang mulia dan agung kedudukan atau pahalanya di sisi Allah. Dan wajib kita menilai tentang haq dan batilnya suatu perkara dengan jalan yang mengantarkan kepada keduanya.” (At Taisir 270 cet. Maktabah Ar Rusyd).

Allah Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ ضَلَّ قَبْلَهُمْ أَكْثَرُ اْلأَوَّلِيْنَ
“Dan sungguh telah tersesat sebagian besar orang-orang terdahulu sebelum mereka.”(Ash Shaffat 71).
Dan firman Allah Ta’ala:
وَمَا أَكْثَرُ اْلنَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِيْنَ
“Dan sebagian besar tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya.”(Yusuf 103).
Dan:
فَأَبَى أَكْثَرُ اْلنَّاسِ إِلاَ كَفُورًا
“Namun kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali kekufuran.”(Al Isra` 89).
Dan:
إِنَّ السَّاعَةَ َلآتِيَةٌ لاَ رَيْبَ فِيهَا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يُؤْمِنُونَ
“Sesungguhnya hari kiamat itu pasti terjadi, tidak diragukan lagi, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mempercayainya.”(Ghafir 59).
Dan
وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلاَّ وَهُمْ مُشْرِكُونَ
“Dan sebagian besar mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah.”(Yusuf 106).
Dan ayat-ayat lain, di mana Allah menerangkan keadaan keadaan mayoritas manusia, bahwa mereka tidak beriman, tidak bersyukur, tidak mengetahui (tidak berakal) dan sebagainya. Bahkan kita dapati bahwa Allah Ta’ala menyebutkan bahwa kebaikan dan kebenaran itu pada golongan yang sedikit. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَقَلِيْلٌ مِنْ عِبَادِيَ الْشَّكُوْرُ
“Sangat sedikit dari hamba-Ku yang bersyukur.”(Saba` 13).
Dan:
إِلاَّ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوْا الْصَالِحَاتِ وَقَلِيْلٌ مَّا هُمْ
“Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh dan mereka ini sangat sedikit.”(Shaad 24).
Firman Allah Ta’ala:
فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْا إِلاَّ قَلِيْلاً مِّنْهُمْ
“Maka ketika diwajibkan atas mereka untuk berperang, sebagian mereka berpaling kecuali sedikit.”(Al Baqarah 246).
Dan
وَلَوْ لاَ فَضْلُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لاَتَّبَعْتُمْ الْشَّيْطَانَ إِلاَ قَلِيْلاً
“Kalaulah tidak karena karunia dan rahmat Allah kepadamu, tentulah kamu mengikuti syaithan, kecuali sebagian kecil.”(An Nisa` 83).

Bahkan diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari hadits Ibnu ‘Abbas radliyallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:
عُرِضَتْ عَلَيَّ اْلأُمَمُ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّهْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَجُلُ وَالرَجُلاَنِ وَالنَّبِيَّ وَلَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ
“Ditampakkan kepadaku ummat-ummat sebelumku, maka aku lihat ada seorang Nabi yang datang bersama segelintir pengikutnya, dan Nabi bersama satu atau dua orang pengikutnya, dan Nabi yang tidak ada seorangpun bersamanya.”

Syaikhul Islam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab An Najdi rahimahullahu Ta’ala menganggap merasa bangga dengan jumlah banyak adalah salah satu sikap jahiliyah. Beliau mengatakan:”Termasuk pedoman (kaidah) utama mereka adalah bangga dan berhujjah (berdalil) dengan jumlah mayoritas terhadap benarnya suatu keyakinan, dan mereka berdalil batilnya (salahnya) suatu keyakinan dengan jumlah minoritas (sedikit pengikutnya).” (Syarh Masail Jahiliyah Sa’id Yusuf 1/178).

Selanjutnya,
Sesungguhnya kami menulis risalah ini sebagai peringatan bagi kaum muslimin atas bid’ah yang diada-adakan Muhammad Arifin Ilham dengan nama ‘Amaliyah Adzkarit Taubat. Dan dia melakukan talbis (pemalsuan) terhadap sebagian besar kaum muslimin tentang sahnya amalan ini dengan berbagai dalil mujmal (bersifat global) sehingga seolah-olah amalan ini ada sumbernya dalam syari’at Islam. Keadaannya ini tidak lain seperti yang digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam:
فَإِذَا رَأَيْتُمُ الَّذِيْنَ يَتَبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُوْلَئِكَ الَّذِيْنَ سَمَّاهُمُ الله فَاحْذَرُوْهُمْ
“Maka apabila kamu melihat orang-orang yang mengikuti hal-hal yang mutasyabihat dari Al Quran, itulah orang-orang yang disebutkan ciri-cirinya oleh Allah, maka jauhilah!”(HSR. Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah).

Pembaca, terimalah sajian kami ini, yang akan menjelaskan batilnya amalan ini dan menyingkap syubhat (kerancuan) orang-orang yang mengada-adakan kebohongan.
Saya memohon kepada Allah Ta’ala agar tulisan ini bermanfaat bagi pembaca dan mereka yang menyebarkannya.

Semoga shalawat dan salam Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Hanya kepada Allah tempat kita meminta pertolongan, hanya kepada-Nya kita berserah diri. Dan tiada daya serta upaya kecuali dengan pertolongan Allah.

Ditulis Oleh Hamba Allah Yang Faqir
Kepada Ampunan Rabbnya Yang Maha Mulia
Abu Karimah ‘Askari
Ibnu Jamaluddin Al Bugisi
Balikpapan, Kalimantan Timur
Rabu Sore, 18 Sya’ban 1424 H
Atau 14 November 2003 M

(Disalin dari “Bid’ah ‘Amaliyah Dzikir Taubat, Bantahan terhadap ‘Arifin Ilham Al Banjari”, Penulis: Al Ustadz Abu Karimah ‘Askari bin Jamal Al Bugisi, Murid Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i, Yaman. Diterbitkan dalam buku berjudul “Bid’ahnya Dzikir Berjama’ah Bantahan Ilmiah Terhadap M. Arifin Ilham Dan Para Pendukungnya” oleh penerbit Darus Salaf Darus Salaf Press, Wisma Harapan Blok A5 No. 5 Gembor, Kodya Tangerang HP. 081316093831 Email: darussalafpress@plasa.com)

Sumber:http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=27

Baca juga:

Dalil-dalil Kesempurnaan Syariat Islam

Pengertian Bid\’ah

Semua Bid\’ah Dalam Agama Adalah Sesat

Apakah Majelis Dzikir Itu?

Bid\’ah Amaliyah Dzikir Taubat

Atsar Ulama Salaf Dan Para Imam

Hukum Dzikir Dan Do’a Setelah Shalat Fardlu dengan Suara Keras Berjama’ah

Jangan Terkecoh Dengan Banyaknya Yang Menangis

Tamayul (Bergoyang-goyang) Ketika Berdzikir

Cara Bersholawat Kepada Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa salam

Iklan